Kenapa Harga Emas Selalu Naik?

Posted on

Kenapa Harga Emas Selalu Naik? Alasan Emas Tetap Berharga dari Dulu hingga Sekarang

Kalau kita melihat harga emas dalam jangka panjang, ada satu hal yang sering membuat penasaran: kenapa harga emas seolah-olah selalu naik?

Kenapa Harga Emas Selalu Naik? | bisnis

Emas sudah dihargai manusia sejak ribuan tahun lalu. Jauh sebelum ada bank, aplikasi investasi, bahkan sebelum uang kertas digunakan seperti sekarang, manusia sudah menyimpan kekayaan dalam bentuk emas.

Menariknya, sampai hari ini emas masih dianggap sebagai salah satu aset berharga. Orang membeli emas untuk perhiasan, tabungan, investasi, bahkan sebagai salah satu cara untuk melindungi kekayaan dari ketidakpastian ekonomi.

Tapi apakah benar emas selalu naik?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Harga emas bisa turun dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, emas memang memiliki sejarah yang panjang sebagai penyimpan nilai dan aset diversifikasi.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat emas begitu berharga?

Sejak Kapan Manusia Menganggap Emas Berharga?

Hubungan manusia dengan emas ternyata sudah berlangsung selama ribuan tahun.

Salah satu bukti tertua berasal dari Nekropolis Varna di Bulgaria, yang menghasilkan artefak emas dari sekitar 4600–4200 SM. Penemuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat pada masa itu sudah menggunakan emas untuk berbagai benda, termasuk perhiasan dan benda yang berkaitan dengan pemakaman.

Emas pada masa tersebut bukan sekadar benda cantik.

Emas juga berkaitan dengan status sosial, kekuasaan, dan simbol tertentu.

Mesir kuno juga memiliki sejarah panjang dalam penggunaan emas. Artefak emas dari Mesir telah ditemukan sejak milenium ke-4 sebelum Masehi.

Artinya, jauh sebelum manusia mengenal sistem perbankan dan pasar saham, emas sudah memiliki sesuatu yang sangat penting dalam ekonomi:

kepercayaan manusia terhadap nilainya.

Kenapa Emas Bisa Menjadi Benda yang Sangat Berharga?

Pertanyaan berikutnya adalah: mengapa emas?

Kenapa bukan besi? Kenapa bukan batu biasa? Kenapa manusia akhirnya memberikan nilai yang sangat tinggi kepada emas?

Salah satu jawabannya adalah karena emas memiliki kombinasi sifat yang cukup unik.

Emas:

  • relatif langka,
  • tahan lama,
  • tidak mudah berkarat,
  • dapat dilebur dan dibentuk kembali,
  • dapat dibagi menjadi bagian yang lebih kecil,
  • mudah dikenali,
  • dan memiliki daya tarik visual.

Sifat-sifat tersebut membuat emas sangat cocok digunakan sebagai benda bernilai.

Bayangkan jika kekayaan disimpan dalam bentuk makanan.

Makanan bisa busuk.

Kalau disimpan dalam bentuk besi, besi bisa berkarat.

Kalau kekayaan disimpan dalam bentuk barang besar, akan sulit dipindahkan.

Emas menawarkan kombinasi yang berbeda.

Nilainya bisa disimpan dalam benda yang relatif kecil, tahan lama, dan mudah dipindahkan.

Inilah salah satu alasan mengapa emas akhirnya memiliki peran besar dalam sejarah manusia.

Bagaimana Emas Bisa Digunakan sebagai Alat Tukar?

Sebelum uang modern dikenal, manusia banyak menggunakan sistem barter.

Misalnya saya memiliki beras dan ingin mendapatkan kambing. Saya harus mencari seseorang yang memiliki kambing dan pada saat yang sama membutuhkan beras.

Masalahnya, tidak selalu mudah menemukan orang dengan kebutuhan yang saling cocok.

Karena itu manusia mulai menggunakan benda-benda tertentu yang lebih mudah diterima sebagai alat pertukaran.

Logam berharga kemudian menjadi salah satu bentuk yang menarik.

Emas dapat ditimbang berdasarkan berat dan kemurniannya. Kemudian berkembanglah penggunaan koin logam dengan berat dan standar tertentu.

Salah satu contoh terkenal berasal dari Lydia pada sekitar abad ke-6 SM, ketika koin berbahan electrum, campuran alami emas dan perak, digunakan sebagai bentuk mata uang yang distandardisasi.

Perkembangannya secara sederhana dapat digambarkan seperti ini:

Barter → benda bernilai → logam berharga → koin → sistem uang.

Jadi, emas tidak tiba-tiba menjadi uang.

Penggunaannya berkembang secara bertahap karena manusia membutuhkan sesuatu yang lebih praktis daripada barter.

Lalu Mengapa Sekarang Kita Tidak Menggunakan Emas sebagai Uang?

Ini bagian yang menarik.

Dulu, sistem uang di berbagai negara pernah menghubungkan mata uang dengan emas melalui sistem gold standard.

Dalam sistem tersebut, nilai mata uang dikaitkan dengan sejumlah emas tertentu.

Namun sistem moneter modern sudah berubah.

Saat ini sebagian besar mata uang yang kita gunakan merupakan fiat money. Nilainya tidak berasal dari kandungan emas pada uang tersebut.

Uang Rp100.000 tidak bernilai karena terdapat emas senilai Rp100.000 di balik lembarannya.

Nilainya berasal dari sistem moneter, kepercayaan masyarakat, penerimaan sebagai alat pembayaran, serta kebijakan negara dan bank sentral.

Lalu muncul pertanyaan:

Kalau uang sekarang tidak lagi harus didukung emas, kenapa emas masih berharga?

Jawabannya membawa kita ke fungsi emas sebagai penyimpan kekayaan.

Apakah Emas Masih Relevan sebagai Investasi Saat Ini?

Menurut saya, masih.

Namun kita perlu mengubah cara berpikir.

Emas sebaiknya tidak dipandang sebagai mesin untuk menghasilkan uang setiap bulan.

Emas tidak memberikan bunga seperti deposito.

Emas juga tidak membayar dividen seperti saham tertentu.

Keuntungan dari emas terutama berasal dari kenaikan harga ketika emas tersebut dijual.

Misalnya seseorang membeli emas senilai Rp10 juta.

Beberapa tahun kemudian nilai emasnya menjadi Rp15 juta.

Secara sederhana, terdapat kenaikan nilai Rp5 juta.

Tetapi jika nilainya justru turun menjadi Rp8 juta dan dijual, maka investor mengalami kerugian.

Jadi emas tetap merupakan investasi yang memiliki risiko.

Kenapa Orang Masih Membeli Emas?

Ada beberapa alasan.

Salah satunya adalah karena emas dianggap sebagai salah satu aset yang dapat digunakan untuk diversifikasi.

Ketika kondisi ekonomi dan pasar keuangan sedang tidak menentu, sebagian investor dapat meningkatkan minat terhadap emas.

Emas juga memiliki pasar global dan digunakan oleh berbagai pihak, termasuk bank sentral.

Permintaan terhadap emas tidak hanya datang dari investor.

Ada permintaan dari:

  • industri perhiasan,
  • investor,
  • bank sentral,
  • industri teknologi,
  • dan berbagai kebutuhan lainnya.

Karena itulah harga emas tidak hanya ditentukan oleh satu faktor.

Apakah Emas Benar-Benar Selalu Naik?

Tidak.

Ini mungkin bagian terpenting dari seluruh artikel.

Kalimat “harga emas selalu naik” sebenarnya kurang tepat.

Harga emas dapat mengalami penurunan dalam jangka pendek maupun periode tertentu.

Bahkan ketika tren jangka panjangnya naik, seseorang yang membeli emas pada harga tinggi kemudian menjualnya dalam waktu singkat tetap bisa mengalami kerugian.

Jadi lebih tepat mengatakan:

Emas memiliki sejarah panjang sebagai penyimpan nilai dan dalam jangka panjang cenderung mengalami kenaikan, tetapi harganya tetap bisa turun.

Perbedaan antara kedua pernyataan tersebut sangat penting.

Apa yang Membuat Harga Emas Naik?

Harga emas dipengaruhi oleh banyak faktor.

Inflasi

Ketika harga barang dan jasa meningkat dan nilai uang mengalami penurunan daya beli, sebagian orang memilih aset seperti emas sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kekayaan.

Namun bukan berarti setiap kali inflasi naik, harga emas pasti langsung naik.

Ada banyak faktor lain yang ikut memengaruhinya.

Suku bunga

Suku bunga juga dapat memengaruhi minat terhadap emas.

Ketika imbal hasil instrumen berbunga menjadi lebih menarik, sebagian investor mungkin lebih tertarik menempatkan dana pada instrumen tersebut.

Sebaliknya, ketika suku bunga turun atau pasar memperkirakan penurunan suku bunga, emas dapat menjadi lebih menarik bagi sebagian investor.

Nilai dolar AS

Harga emas dunia umumnya dikutip dalam dolar AS.

Karena itu, perubahan nilai dolar dapat memengaruhi harga emas.

Untuk investor Indonesia, ada faktor tambahan karena kita membeli emas menggunakan rupiah. Jadi pergerakan kurs rupiah terhadap dolar juga dapat memengaruhi harga emas dalam rupiah.

Ketidakpastian ekonomi dan geopolitik

Ketika dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi, konflik, atau gejolak pasar keuangan, sebagian investor mencari aset yang dianggap sebagai safe haven.

Emas sering mendapatkan perhatian dalam kondisi seperti ini.

Permintaan bank sentral

Bank sentral di berbagai negara juga memiliki cadangan emas.

Ketika pembelian emas oleh bank sentral meningkat, permintaan global terhadap emas dapat ikut terdorong.

Jumlah emas yang terbatas

Emas berbeda dengan uang yang dapat ditambah melalui sistem moneter.

Untuk mendapatkan emas baru, manusia harus melakukan eksplorasi dan penambangan.

Stok emas yang sudah berada di atas tanah juga bertambah secara relatif lambat.

Keterbatasan pasokan ini menjadi salah satu karakteristik yang membuat emas memiliki nilai.

Apakah Emas Bisa Kehabisan?

Secara sederhana, emas yang mudah dan ekonomis untuk ditambang memang terbatas.

Namun bukan berarti suatu hari manusia akan benar-benar menemukan bahwa semua emas di bumi sudah habis.

Masalahnya lebih kepada seberapa sulit dan mahal untuk mendapatkan emas baru.

Ketika cadangan yang mudah ditambang semakin berkurang, perusahaan harus melakukan eksplorasi dan menggunakan teknologi untuk menemukan serta mengekstraksi sumber daya baru.

Inilah yang membuat pasokan emas tidak bisa ditambah secara instan hanya karena permintaannya meningkat.

Apakah Membeli Emas Bisa Menambah Penghasilan?

Bisa menambah kekayaan, tetapi istilahnya perlu dibedakan.

Emas bukan investasi yang dirancang untuk memberikan penghasilan rutin.

Kalau kita membeli emas Rp20 juta, kita tidak otomatis mendapatkan Rp1 juta setiap bulan.

Kita memperoleh keuntungan jika harga emas naik dan kita menjualnya pada harga yang lebih tinggi.

Karena itu emas lebih tepat digunakan sebagai:

alat menyimpan kekayaan dan diversifikasi, bukan sebagai sumber pendapatan bulanan.

Jika tujuan kita adalah mendapatkan penghasilan rutin, ada instrumen lain yang memiliki mekanisme berbeda, seperti obligasi yang memberikan kupon sesuai ketentuan atau saham tertentu yang membagikan dividen.

Apa Saja yang Harus Diperhatikan Sebelum Membeli Emas?

Kalau setelah membaca penjelasan di atas kita tertarik membeli emas, jangan terburu-buru.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Tentukan tujuan

Tanyakan terlebih dahulu:

“Saya membeli emas untuk apa?”

Apakah untuk jangka panjang?

Untuk menyimpan sebagian kekayaan?

Untuk diversifikasi?

Atau hanya ingin mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga dalam beberapa bulan?

Jawaban tersebut akan menentukan bagaimana kita seharusnya memperlakukan investasi emas.

2. Jangan menggunakan seluruh tabungan

Emas memang populer sebagai aset penyimpan nilai, tetapi bukan berarti seluruh uang harus dipindahkan ke emas.

Diversifikasi tetap penting.

Dana darurat dan kebutuhan sehari-hari sebaiknya tidak dicampur dengan dana investasi.

3. Perhatikan harga beli dan harga jual kembali

Ini salah satu hal yang sering dilupakan pemula.

Misalnya kita membeli emas dengan harga Rp2 juta per gram.

Belum tentu toko akan membeli kembali emas tersebut dengan harga Rp2 juta.

Ada selisih antara harga beli dan harga buyback.

Selisih tersebut harus diperhitungkan ketika menghitung keuntungan.

4. Pilih emas yang jelas keasliannya

Kalau membeli emas fisik, pastikan membeli dari penjual yang terpercaya.

Perhatikan:

  • kadar emas,
  • berat,
  • sertifikat atau bukti keaslian,
  • reputasi penjual,
  • harga,
  • dan kebijakan buyback.

Jangan hanya mengejar harga termurah.

5. Pertimbangkan biaya penyimpanan

Emas fisik membutuhkan tempat penyimpanan yang aman.

Semakin besar jumlah emas yang dimiliki, semakin penting masalah keamanan.

Kita dapat menyimpan sendiri dengan sistem keamanan yang memadai atau menggunakan layanan penyimpanan profesional, dengan mempertimbangkan biaya yang dikenakan.

6. Pahami emas digital

Saat ini membeli emas tidak selalu berarti membawa pulang emas batangan.

Ada berbagai layanan yang memungkinkan seseorang memiliki eksposur terhadap emas secara digital.

Namun sebelum menggunakannya, pahami:

  • siapa penyedianya,
  • bagaimana emas fisiknya disimpan,
  • bagaimana mekanisme kepemilikannya,
  • biaya transaksi,
  • biaya penyimpanan,
  • dan bagaimana cara menjual atau mencairkannya.

Jangan membeli hanya karena aplikasinya sedang populer.

7. Jangan membeli hanya karena harga sedang naik

Ini salah satu jebakan psikologis dalam investasi.

Ketika kita melihat harga emas terus naik, muncul perasaan takut ketinggalan atau FOMO.

Akhirnya kita membeli tanpa mempertimbangkan harga, tujuan, dan jangka waktu investasi.

Padahal harga yang sedang naik bukan jaminan bahwa besok akan terus naik.

Lebih Baik Emas Fisik atau Emas Digital?

Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua orang.

Emas fisik memiliki kelebihan karena kita benar-benar memiliki emas dalam bentuk fisik. Tetapi ada masalah penyimpanan, keamanan, dan biasanya terdapat selisih antara harga beli dan buyback.

Emas digital lebih praktis karena dapat dibeli dan dijual melalui platform tertentu tanpa harus menyimpan emas batangan sendiri.

Namun kita perlu memahami struktur produk dan pihak yang menyediakan layanan tersebut.

Jadi jangan hanya bertanya:

“Mana yang lebih bagus?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Mana yang paling sesuai dengan tujuan, kebutuhan, dan kemampuan saya?”

Apakah Emas Lebih Aman daripada Saham atau Bitcoin?

Perbandingan seperti ini juga perlu hati-hati.

Emas, saham, dan Bitcoin memiliki karakteristik yang berbeda.

Saham memberikan kepemilikan terhadap perusahaan.

Emas merupakan aset fisik yang memiliki nilai pasar global.

Bitcoin merupakan aset digital dengan karakteristik dan volatilitas yang berbeda.

Karena itu, mengatakan salah satunya “pasti lebih aman” tanpa menjelaskan konteks bisa menyesatkan.

Yang lebih penting adalah memahami risiko dan tujuan setiap aset.

Bagi sebagian orang, emas bisa menjadi bagian dari portofolio untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis aset.

Jadi, Apakah Sekarang Masih Tepat Membeli Emas?

Menurut saya, pertanyaannya bukan sekadar “sekarang harga emas mahal atau murah?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa tujuan saya membeli emas?”

Kalau tujuannya adalah menyimpan sebagian kekayaan dalam jangka panjang dan melakukan diversifikasi, emas masih relevan untuk dipertimbangkan.

Tetapi kalau tujuan kita adalah mendapatkan keuntungan cepat, emas bukan berarti selalu menjadi pilihan terbaik.

Harga emas tetap bisa turun.

Tidak ada investasi yang selalu naik.

Kesimpulan

Emas telah dihargai manusia selama ribuan tahun. Awalnya digunakan sebagai perhiasan, simbol status, dan benda bernilai, kemudian berkembang menjadi salah satu bentuk alat pertukaran dan penyimpan kekayaan.

Sampai sekarang, emas masih memiliki peran dalam sistem keuangan global.

Namun kita perlu meluruskan satu hal:

emas tidak selalu naik.

Harga emas dapat mengalami kenaikan maupun penurunan. Dalam jangka panjang, emas memiliki sejarah sebagai penyimpan nilai dan aset diversifikasi, tetapi bukan berarti setiap orang yang membeli emas pasti mendapatkan keuntungan.

Jika ingin membeli emas sebagai investasi, jangan hanya melihat grafik harga yang terus naik.

Perhatikan tujuan investasi, harga beli, harga buyback, spread, keaslian, biaya penyimpanan, tempat membeli, serta risiko jika harga turun.

Pada akhirnya, emas bukanlah alat untuk menjadi kaya dengan cepat.

Emas lebih tepat dipandang sebagai salah satu cara untuk menyimpan dan menjaga sebagian kekayaan dalam jangka panjang.

Dan mungkin justru karena manusia sudah mempercayai emas selama ribuan tahun, benda kecil berwarna kuning ini masih memiliki tempat penting di dunia keuangan sampai hari ini.

Gravatar Image
Lulusan S1 informatika, bekerja sebagai fulltime blogger, content writter, dan sekarang sedang membangun channel YouTube... Berpengalaman bekerja dari sma, dan sekarang memilih menjalani usaha kecil kecilan.. Senang mendengar, membaca, menulis, dan memasak...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.